Posts Tagged ‘stimulus’

Stimulus Infrastruktur Serap 1,1 Juta Tenaga Kerja

Friday, January 15th, 2010
Stimulus Infrastruktur Serap 1,1 Juta Tenaga Kerja

JAKARTA – Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mencatat jumlah penyerapan tenaga kerja seiring penyerapan stimulus infrastruktur tahun lalu mencapai 1,1 juta orang. Jumlah ini sedikit di bawah proyeksi Bappenas sebesar 1,3 juta pekerja.

Plt Deputi bidang Evaluasi Kinerja Pembangunan Bappenas Dedy Maskur Riady mengatakan, jumlah penyerapan tenaga kerja sebenarnya bisa melebihi 1,1 juta orang jika dihitung secara bulanan atau harian, bukan diakumulasi pada akhir tahun.
(more…)

APBN, Menuju Titik Pemulihan

Monday, January 4th, 2010
APBN, Menuju Titik Pemulihan

Tahun 2009 sudah dilalui. Tahun yang dinilai sebagai tahun berat bagi pengelola keuangan negara ini ditandai dengan berbagai tekanan. Tekanan ini yang kemudian memunculkan berbagai kreasi baru alternatif pembiayaan yang disesuaikan dengan kebutuhan APBN. Untuk mengantisipasi memburuknya krisis ekonomi global, APBN 2009 sempat dirombak sejak awal tahun. Salah satu penyebabnya adalah adanya tambahan stimulus fiskal sebesar Rp 12,5 triliun menjadi Rp 71,3 triliun untuk menekan daya rusak krisis ekonomi tersebut.
(more…)

Obama Khawatirkan Lonjakan Pengangguran di AS

Sunday, July 19th, 2009
Obama Khawatirkan Lonjakan Pengangguran di AS

WASHINGTON — Presiden AS Barack Obama menolak memprediksi hingga seberapa besar jumlah pengangguran di AS. Namun, Obama memperkirakan, angka pengangguran ini akan terus memburuk saat isyarat pemulihan ekonomi AS belum dapat menjamin penyerapan tenaga kerja.

“Belum diketahui pasti seberapa besar lapangan kerja berpotensi menyerap tenaga kerja,” ujar Obama saat akan menuju Michigan, wilayah dengan kondisi ekonomi yang terkena dampak terburuk dari krisis keuangan. “Ekspektasi saya adalah kemungkinan jumlah pengangguran akan terus bertambah dalam beberapa bulan mendatang.”

Tingkat pengangguran di AS telah mencapai 9,5 persen atau tertinggi dalam 26 tahun terakhir. Lewat keterangan pers yang disampaikan di Gedung Putih, Obama menerangkan bahwa stabilisasi pasar keuangan telah memungkinkan sejumlah bank untuk kembali mengucurkan kredit dan beberapa usaha kecil tetap bergeliat.

Namun, Obama menjelaskan, pemerintahnya sadar bahwa faktor terpenting adalah, apakah para tenaga kerja itu mendapatkan bayaran yang layak. Lebih dari 2 juta warga AS telah kehilangan pekerjaan sejak Kongres meloloskan paket stimulus ekonomi senilai 787 miliar dollar AS yang diajukan oleh Obama. Menurut Obama, tanpa intervensi pemerintahnya itu, negara bagian, seperti Michigan, akan mengalami kondisi lebih buruk karena harus memecat lebih banyak tenaga guru, petugas pemadam kebakaran, dan mereka dari profesi lainnya.

Gedung Putih telah dikritik karena terlalu optimistis dengan proyeksi penyerapan tenaga kerja. Tepat 10 hari sebelum menjabat, penasihat ekonomi terkemuka Obama mengeluarkan sebuah laporan yang memprediksi tingkat pengangguran akan tetap berada pada 8 persen atau di bawah angka tersebut tahun ini apabila rancangan stimulus ekonomi diloloskan oleh Kongres.

Pertahanan Hadapi “Gempa Kedua”

Saturday, July 18th, 2009
Pertahanan Hadapi “Gempa Kedua”

Krisis yang bersumber dan berepisentrum di negara-negara maju membuat negara-negara berkembang yang ”tak berdosa” juga ikut babak belur. Kawasan emerging markets Asia yang semula dianggap relatif steril dari dampak krisis AS pun mendapat pukulan yang jauh lebih keras dibandingkan dengan yang mereka alami pada krisis finansial 1997/1998.

Untuk meredam dampak krisis global, secara kolektif emerging markets Asia sejauh ini sudah merencanakan untuk menggelontorkan sekitar 700 miliar dollar AS dalam bentuk stimulus fiskal. Pada saat yang sama, bank-bank sentral di kawasan ini juga berlomba-lomba menurunkan suku bunga guna mendorong pertumbuhan ekonomi yang mengalami perlambatan tajam di tengah penurunan permintaan ekspor global.

Sudahkah itu membuat Asia aman? Ternyata tidak. Seperti diingatkan Bank Dunia, stimulus hanya mampu mengurangi daya rusak dari krisis global, tetapi tak mampu mengompensasi kolapsnya permintaan global atau mengembalikan potensi pertumbuhan ekonomi yang dimiliki emerging markets.

Efektivitas stimulus juga masih sangat tergantung arah dan pelaksanaan di lapangan, serta respons dunia usaha dan masyarakat terhadap paket yang digelontorkan.

Terus memburuknya intensitas krisis ekonomi di negara maju membuat banyak negara dan lembaga dipaksa merevisi kembali target dan prediksi ekonominya.

IMF merevisi perkiraan pertumbuhan ekonomi global tahun 2009 dari 2,2 persen (versi November 2008) menjadi hanya 0,5 persen. Dengan semua macan Asia (Korea Selatan, Taiwan, Hongkong, dan Singapura) mengalami resesi, proyeksi pertumbuhan negara berkembang Asia juga dipangkas menjadi 5,5 persen. China diperkirakan hanya tumbuh 6,7 persen, dari 8,5 persen tahun 2008.
(more…)

KeMana Uang Itu Mengalir?

Saturday, July 18th, 2009
KeMana Uang Itu Mengalir?

Pemerintah telah menetapkan anggaran Rp 10,2 triliun untuk menambah alokasi anggaran proyek infrastruktur yang telah ditetapkan dalam APBN 2009 senilai Rp 102 triliun. Dana itu disiapkan sebagai salah satu langkah untuk antisipasi menghadapi memburuknya krisis ekonomi global.

Melalui dana stimulus itu diharapkan bisa membuka lapangan kerja untuk mempertahankan daya beli masyarakat. Namun, ke mana uang Rp 10,2 triliun itu mengalir? Itu belum jelas. Sebagai patokan, dalam tajuk The Economist, majalah yang sudah berusia 166 tahun, edisi 24 Januari 2009, disebutkan bahwa efektivitas stimulus sangat ditentukan dua hal. Pertama, skala atau nilai stimulusnya. Kedua, bentuk dari stimulus itu.

Kompas mendapatkan penjelasan mengenai aliran ini cukup lengkap dari Kantor Menteri Koordinator Perekonomian. Namun, efektivitas anggarannya sangat tergantung dari departemen teknis sebagai pelaksana.

Pada akhir tahun 2008, saat pemerintah mulai mengumumkan niatnya untuk menambah anggaran infrastruktur dalam mengantisipasi memburuknya krisis ekonomi, banyak departemen teknis yang dengan kehausan menyampaikan proposal kepada Kementerian Koordinator Perekonomian.
(more…)