SETIAP orang berhak punya cita-cita yang mencerminkan keinginan, harapan, dan perwujudan prinsip. Walau kerap berubah, biarkan anak Anda memiliki cita-cita. Seperti apa cita-citanya? Menjadi dokter, guru, polisi, insinyur.
Demikian jawaban standar yang kerap dilontarkan ketika anak ditanyai tentang cita-citanya. Umumnya anak-anak usia TK dan awal SD belum paham betul makna cita-citanya. Ada yang sekadar ikut-ikutan temannya, ingin seperti orangtuanya, atau karena kagum pada tokoh atau figur profesi tertentu.
Sebagai contoh, anak yang ingin menjadi musisi atau pelukis mungkin dikarenakan orangtuanya juga seorang musisi atau pelukis; anak yang bercita-cita menjadi guru atau dokter karena menganggap guru itu pintar dan dokter itu bisa menyembuhkan penyakit; atau anak yang ingin menjadi polisi atau insinyur sebab menurutnya polisi itu gagah, sedangkan insinyur bisa membangun gedung-gedung tinggi.
Ya, cita-cita anak kerap dipengaruhi persepsinya terhadap profesi tersebut, jadi jangan heran bila selalu berubah-ubah. Satu waktu bilang ingin jadi dokter, lain kali ngebet ingin jadi astronot misalnya. (more…)
