Posts Tagged ‘sadar’

BI Tengahi Citibank dan Permata Hijau

Monday, July 20th, 2009
BI Tengahi Citibank dan Permata Hijau

JAKARTA – Persoalan tagihan Citibank terhadap PT Permata Hijau Sawit (PHS) yang mencapai puluhan juta dollar Amerika Serikat ternyata mendapat perhatian Bank Indonesia (BI). Dari kasus ini, BI lantas mengambil langkah tegas.

Fakta ini terungkap dalam sidang lanjutan gugatan PHS terhadap Citibank di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, kemarin (2/7). Kuasa Hukum PHS menghadirkan saksi Pimpinan BI Medan, Romeo Rissal. Romeo menjelaskan tindak lanjut BI cabang Medan atas laporan Robert, pemilik PHS.

Romeo mengaku pertama kali mendapat keluhan Robert soal tagihan dari Citibank terkait transaksi derivatif pada 9 November 2008. ” PHS merasa tertipu oleh bank asing dan kaget akan biaya ganti rugi yang sangat besar,” ujarnya. Karena belum paham jenis transaksinya, Romeo menyarankan Robert meminta bantuan secara formal ke BI.

Pada 13 November 2008, bersama karyawannya yang berhubungan dengan transaksi derivatif tersebut, Robert membawa semua dokumen perjanjian transaksi PHS dan Citibank ke Romeo. “Robert disuruh membayar 23 juta dollar AS,” kata Romeo.

Romeo tak kalah kaget setelah mempelajari dokumen yang semuanya tertulis dalam bahasa Inggris. “Ini bukan lagi transaksi hedging seperti yang biasa bapak lakukan. Ini adalah callable forward,” ujar Romeo, menirukan ucapannya kepada Robert saat itu.

Jadi pertimbangan BI

Romeo lantas memerintahkan stafnya menghubungi Citibank cabang Medan. Namun karena transaksi itu dilakukan Citibank cabang Jakarta, sesuai prosedur yang berlaku, yang berhak memberikan konfirmasi adalah Citibank cabang Jakarta.

Sadar bahwa transaksi ini bisa berbahaya, Romeo juga meminta Gubernur BI menerima presentasi kasus ini darinya. Pada 19 November, Romeo mengadakan pertemuan dengan Gubernur BI.

Setelah mencermati kasus PHS dan laporan lain, BI mengambil langkah tegas dengan mengeluarkan Surat Edaran (SE) No. 10/42/PDM tertanggal 27 November 2008. Inti surat itu adalah melarang bank mengeluarkan produk forward untuk hedging.

BI cabang Medan tentunya segera menindaklanjuti SE tersebut. “Kami ingin menerapkan SE 10/42 BI ini secara konsisten. Kami akan memantau dan memberi sanksi lebih berat bagi pelanggar,” ujar Romeo.

Menurut Romeo, saat ini, bank yang ngotot mengeluarkan produk ini bahkan tingkat kesehatannya bisa diturunkan. “Direksinya juga bisa kena kewajiban fit and proper test,” ujarnya. Aturan ini juga disosialisasikan agar masyarakat dan eksportir tidak mudah dan sembarangan membeli produk hedging.

Romeo juga menyayangkan penggunaan bahasa Inggris dalam kontrak perjanjian derivatif itu. “Bahasanya rumit sekali. Saya juga bingung kenapa dibikin sedemikian rupa. Padahal, sebenarnya bisa dibikin sederhana dan mudah dipahami,” ujarnya.

Seharusnya, sesuai Peraturan BI 7/6 tahun 2005, bank harus menjelaskan risiko, manfaat, dan apa yang akan terjadi di kemudian hari. “Seperti sebuah pernikahan. Kalau perjanjian ini kan tidak asal tembak memakai bahasa Inggris,” tandas Romeo.

Menanggapi hal itu, Haryo Wibowo, pengacara Citibank berdalih, penggunaan bahasa yang bisa dimengerti itu relatif. “Rumit enggaknya itu relatif. Pemahaman terhadap makna yang sederhana itu juga berbeda-beda,” ujarnya.

Kuasa hukum Citibank lainnya, Erwandi Hendarta bilang, kasus ini muncul bukan karena ada pelanggaran terhadap aturan BI. Tapi, lantaran “PHS telah melakukan wanprestasi atas perjanjian yang telah disepakati,” katanya.

Obama Khawatirkan Lonjakan Pengangguran di AS

Sunday, July 19th, 2009
Obama Khawatirkan Lonjakan Pengangguran di AS

WASHINGTON — Presiden AS Barack Obama menolak memprediksi hingga seberapa besar jumlah pengangguran di AS. Namun, Obama memperkirakan, angka pengangguran ini akan terus memburuk saat isyarat pemulihan ekonomi AS belum dapat menjamin penyerapan tenaga kerja.

“Belum diketahui pasti seberapa besar lapangan kerja berpotensi menyerap tenaga kerja,” ujar Obama saat akan menuju Michigan, wilayah dengan kondisi ekonomi yang terkena dampak terburuk dari krisis keuangan. “Ekspektasi saya adalah kemungkinan jumlah pengangguran akan terus bertambah dalam beberapa bulan mendatang.”

Tingkat pengangguran di AS telah mencapai 9,5 persen atau tertinggi dalam 26 tahun terakhir. Lewat keterangan pers yang disampaikan di Gedung Putih, Obama menerangkan bahwa stabilisasi pasar keuangan telah memungkinkan sejumlah bank untuk kembali mengucurkan kredit dan beberapa usaha kecil tetap bergeliat.

Namun, Obama menjelaskan, pemerintahnya sadar bahwa faktor terpenting adalah, apakah para tenaga kerja itu mendapatkan bayaran yang layak. Lebih dari 2 juta warga AS telah kehilangan pekerjaan sejak Kongres meloloskan paket stimulus ekonomi senilai 787 miliar dollar AS yang diajukan oleh Obama. Menurut Obama, tanpa intervensi pemerintahnya itu, negara bagian, seperti Michigan, akan mengalami kondisi lebih buruk karena harus memecat lebih banyak tenaga guru, petugas pemadam kebakaran, dan mereka dari profesi lainnya.

Gedung Putih telah dikritik karena terlalu optimistis dengan proyeksi penyerapan tenaga kerja. Tepat 10 hari sebelum menjabat, penasihat ekonomi terkemuka Obama mengeluarkan sebuah laporan yang memprediksi tingkat pengangguran akan tetap berada pada 8 persen atau di bawah angka tersebut tahun ini apabila rancangan stimulus ekonomi diloloskan oleh Kongres.