Perekonomian global mulai memasuki periode paling kritis dari krisis ekonomi yang berepisentrum di Amerika Serikat. Untuk meredam krisis, sejumlah negara secara kolektif telah atau berencana menggelontorkan paket stimulus fiskal senilai triliunan dollar AS. Suku bunga secara global juga sudah berada di titik terendah sejak beberapa dekade terakhir.
Namun, semua itu belum mampu membalikkan ekspektasi negatif dan membawa krisis global ke titik dasarnya.
Situasi dewasa ini, seperti digambarkan Direktur Jenderal Organisasi Perdagangan Dunia Pascal Lamy, bisa dilukiskan hanya dengan dua kata: pesimisme dan ketakutan. Pekerja ketakutan akan kehilangan pekerjaan. Pelaku usaha ketakutan tak akan mendapatkan kredit untuk membiayai kegiatan usahanya. Pemerintah ketakutan penurunan tajam perdagangan akan melumpuhkan mesin pertumbuhan.
Kepercayaan bisnis dan konsumen berada pada titik terendah. Sektor keuangan dan perekonomian dipenuhi oleh zombie, lembaga-lembaga keuangan dan korporasi raksasa yang secara teknis sudah bangkrut dan hidup dari suntikan besar dana pemerintah atau bank sentral.
Kondisi ekonomi global terus memburuk sejak krisis kredit macet perumahan (subprime mortgage) menyeruak di AS, Juli 2007. Perekonomian dunia nyaris tak bergerak, diperkirakan hanya tumbuh 0,5 persen tahun ini, dengan perekonomian negara maju tumbuh negatif 2 persen dan negara-negara berkembang positif 3,3 persen.
(more…)