Posts Tagged ‘makanan dan minuman’

Sekolah Lagi, Uang Jajan Lagi

Saturday, July 25th, 2009
Sekolah Lagi, Uang Jajan Lagi

PEMBERIAN uang saku yang tepat dan bijak dapat melatih kemandirian anak. Untuk itu, bijaklah memberi uang jajan untuk si kecil. Berilah uang saku sesuai kebutuhan dan jangan berlebihan.

Libur ajaran baru telah usai, anak-anak kembali masuk sekolah. Mungkin banyak juga di antara Anda para orangtua yang si buah hatinya baru mulai masuk SD? Nah, inilah saatnya melatih anak belajar mandiri, salah satunya melalui pemberian uang saku.

Ketika masih duduk di bangku TK atau playgroup, si kecil biasanya masih minta ditunggui, jadi ibu tidak khawatir akan kondisi buah hatinya di sekolah. Namun, saat memasuki SD tentunya ibu tidak mungkin menungguinya terus-menerus kan? Saat itulah ibu bisa mempertimbangkan perlunya pemberian uang saku agar anak terpenuhi kebutuhannya selama proses belajar-mengajar di sekolah yang rata-rata berlangsung selama 6-7 jam.

Anak yang baru mulai masuk di kelas 1 SD biasanya masih terbawa kebiasaan sewaktu di TK. Misalnya dalam hal bekal makanan dan minuman masih dibawakan ibunya dari rumah sehingga ibu belum merasa perlu memberinya uang saku.

“Kalau di sekolah anak saya kebetulan sama sekali tidak ada kantin atau pedagang makanan. Konsumsi anak-anak sudah tersedia dari katering sekolah. Jadi, orangtua tidak perlu repot menyiapkan bekal atau memberi uang saku,” ungkap Priscilla, seorang ibu asal Bogor yang memiliki putra yang baru masuk kelas 1 SD bulan ini.
(more…)

Menteri Ekonomi Harus Nonpartisan

Sunday, July 19th, 2009
Menteri Ekonomi Harus Nonpartisan

JAKARTA – Kalangan dunia usaha berharap kepada pemerintahan mendatang, para menteri yang menangani bidang ekonomi adalah figur nonpartisan, dapat membuat terobosan, tegas, berani, dan mampu menembus kebuntuan birokrasi. Menteri yang dinilai berhasil harus dipertahankan.

Demikian rangkuman dari harapan yang disampaikan secara terpisah di Jakarta, Selasa (14/7), oleh Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Perindustrian, Riset, dan Teknologi Rahmat Gobel; Ketua Ikatan Bankir Indonesia Agus Martowardojo; Ketua Perhimpunan Bank Umum Nasional Sigit Pramono; Ketua Masyarakat Profesional Madani Ismed Hasan Putro; ekonom Mirza Adityaswara.

Pendapat juga disampaikan oleh Ketua Masyarakat Perikanan Nusantara Shidiq Moeslim, Ketua Harian Asosiasi Pengusaha Pengalengan Ikan Indonesia Adi Surya., Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Eddy Widjanarko, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) Thomas Darmawan, Ketua Umum Himpunan Pengusaha Jasa TKI (Himsataki) Yunus M Yamani.

Rahmat mengharapkan, kabinet baru mampu mengimplementasikan target pertumbuhan ekonomi yang dikampanyekan calon presiden. Untuk itu, harus dipilih orang yang tepat.

Saat ini, lanjut Rahmat , Kadin Indonesia sedang menyusun Visi 2030 dan Roadmap 2015 Industri Nasional. Apabila gagasan Kadin itu dapat diterima, pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan melebihi 7 persen.

Sementara itu, Agus Martowardojo berpendapat, menteri bidang ekonomi harus memiliki komitmen kuat untuk melaksanakan pembangunan kelembagaan, mendengarkan pelaku pasar, dan memiliki kredibilitas sehingga dipercaya seluruh pemangku kepentingan.

Presiden diingatkan agar konsisten melanjutkan kebijakan selama ini. ”Untuk itu, menteri bidang ekonomi yang dinilai berhasil sebaiknya diteruskan. Do not change the winning team (Jangan mengubah tim kemenangan),” kata Sigit Pramono.

Bahkan, Ismed dengan tegas mengharapkan agar Sri Mulyani Indrawati dipertahankan sebagai Menteri Keuangan. ”Selain karena kompetensi dan integritasnya, juga beri dia kesempatan agar lebih cepat dan efektif melakukan reformasi birokrasi di Depkeu, khususnya Ditjen Pajak dan Ditjen Bea Cukai,” katanya.

Untuk Gubernur BI, Presiden bisa mengajukan Darmin Nasution, Hartadi A Sarwono, dan Muliaman D Hadad. ”Mereka memiliki integritas, kompetensi, dan komitmennya dapat diterima pelaku pasar,” ujar Ismed.

Menurut Mirza, Gubernur BI sebaiknya figur yang tidak hanya kuat di bidang moneter, tetapi juga memiliki kehati-hatian, dan tegas dalam pengawasan pengaturan perbankan.

Guna mendorong roda perekonomian, menurut Eddy, dibutuhkan tim ekonomi yang kuat dan netral. Tidak partisan. ”Kita perlu langkah konkret agar dapat membuka lapangan pekerjaan. Pengangguran masih jadi pekerjaan besar ini,” kata Eddy.

Saran tidak menempatkan wakil partai politik terlalu banyak di kabinet, untuk mencegah konflik kepentingan, juga disampaikan Thomas Darmawan. ”Profesional lebih baik. Untuk Menteri Koperasi dan UKM pilih figur yang mampu mendorong terciptanya wirausaha,” katanya.

Yunus M Yamani berpendapat, bidang ketenagakerjaan butuh menteri yang berani bersikap tegas dan dapat membuat terobosan kebijakan, bukan hanya paham teknis pelaksanaan,

Harapan agar kabinet mendatang memiliki visi pengembangan sektor kelautan dengan menitikberatkan pada pengembangan agroindustri disampaikan Shidiq Moeslim dan Adi Surya.