WASHINGTON — Presiden AS Barack Obama menolak memprediksi hingga seberapa besar jumlah pengangguran di AS. Namun, Obama memperkirakan, angka pengangguran ini akan terus memburuk saat isyarat pemulihan ekonomi AS belum dapat menjamin penyerapan tenaga kerja.
“Belum diketahui pasti seberapa besar lapangan kerja berpotensi menyerap tenaga kerja,” ujar Obama saat akan menuju Michigan, wilayah dengan kondisi ekonomi yang terkena dampak terburuk dari krisis keuangan. “Ekspektasi saya adalah kemungkinan jumlah pengangguran akan terus bertambah dalam beberapa bulan mendatang.”
Tingkat pengangguran di AS telah mencapai 9,5 persen atau tertinggi dalam 26 tahun terakhir. Lewat keterangan pers yang disampaikan di Gedung Putih, Obama menerangkan bahwa stabilisasi pasar keuangan telah memungkinkan sejumlah bank untuk kembali mengucurkan kredit dan beberapa usaha kecil tetap bergeliat.
Namun, Obama menjelaskan, pemerintahnya sadar bahwa faktor terpenting adalah, apakah para tenaga kerja itu mendapatkan bayaran yang layak. Lebih dari 2 juta warga AS telah kehilangan pekerjaan sejak Kongres meloloskan paket stimulus ekonomi senilai 787 miliar dollar AS yang diajukan oleh Obama. Menurut Obama, tanpa intervensi pemerintahnya itu, negara bagian, seperti Michigan, akan mengalami kondisi lebih buruk karena harus memecat lebih banyak tenaga guru, petugas pemadam kebakaran, dan mereka dari profesi lainnya.
Gedung Putih telah dikritik karena terlalu optimistis dengan proyeksi penyerapan tenaga kerja. Tepat 10 hari sebelum menjabat, penasihat ekonomi terkemuka Obama mengeluarkan sebuah laporan yang memprediksi tingkat pengangguran akan tetap berada pada 8 persen atau di bawah angka tersebut tahun ini apabila rancangan stimulus ekonomi diloloskan oleh Kongres.