Posts Tagged ‘Ekonomi’

Menanti di Kolong Jembatan…

Saturday, September 5th, 2009
Menanti di Kolong Jembatan…

Faktanya kini, baru 600-an kilometer jalan tol terbangun dari rencana pemerintah membangun 1.600 km jalan tol. Ambisi pemerintah membangun jaringan Tol Trans-Jawa dari Jakarta ke Surabaya juga gagal diwujudkan tahun 2009/2010. Industri jalan tol Indonesia memang sedang terpuruk. Bagaimana caranya bangkit dari kematian?

Sungguh memprihatinkan, menyaksikan perkembangan jalan tol di Indonesia. Pembangunannya sungguh lamban, bahkan bila dibandingkan Malaysia. Negara tetangga itu hingga kini telah membangun lebih dari 6.000 km highway, atau jaringan jalan sekelas jalan tol di Indonesia.
(more…)

Industri Asuransi Jiwa Tetap Optimistis

Monday, July 20th, 2009
Industri Asuransi Jiwa Tetap Optimistis

JAKARTA — Industri asuransi jiwa diperkirakan akan bertumbuh pesat, demikian halnya dengan agen penjual asuransi. Sampai tahun 2012, diperkirakan agen penjual asuransi jiwa mencapat 500 orang.

“Sekarang jumlah agen asuransi jiwa yang ada sebanyak 330 agen, jika kondisi ekonomi semakin membaik, maka tahun 2012 agen asuransi jiwa dapat meningkat menjadi 500 orang,” terang Evelina F Petruscha, Ketua Umum Asuransi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), di Jakarta, Kamis (2/7).

Untuk aset, kata dia, diperkirakan juga akan meningkat, pada tahun 2014 aset asuransi jiwa diprediksi akan menyentuh angka Rp 500 triliun. “Di negara maju asetnya sepertiga dari aset perbankan, jika pada tahun 2014 jumlah aset perbankan adalah Rp 16.000 triliun maka aset asuransi jiwa sebesar Rp 500 triliun,” jelasnya.
(more…)

Obama Khawatirkan Lonjakan Pengangguran di AS

Sunday, July 19th, 2009
Obama Khawatirkan Lonjakan Pengangguran di AS

WASHINGTON — Presiden AS Barack Obama menolak memprediksi hingga seberapa besar jumlah pengangguran di AS. Namun, Obama memperkirakan, angka pengangguran ini akan terus memburuk saat isyarat pemulihan ekonomi AS belum dapat menjamin penyerapan tenaga kerja.

“Belum diketahui pasti seberapa besar lapangan kerja berpotensi menyerap tenaga kerja,” ujar Obama saat akan menuju Michigan, wilayah dengan kondisi ekonomi yang terkena dampak terburuk dari krisis keuangan. “Ekspektasi saya adalah kemungkinan jumlah pengangguran akan terus bertambah dalam beberapa bulan mendatang.”

Tingkat pengangguran di AS telah mencapai 9,5 persen atau tertinggi dalam 26 tahun terakhir. Lewat keterangan pers yang disampaikan di Gedung Putih, Obama menerangkan bahwa stabilisasi pasar keuangan telah memungkinkan sejumlah bank untuk kembali mengucurkan kredit dan beberapa usaha kecil tetap bergeliat.

Namun, Obama menjelaskan, pemerintahnya sadar bahwa faktor terpenting adalah, apakah para tenaga kerja itu mendapatkan bayaran yang layak. Lebih dari 2 juta warga AS telah kehilangan pekerjaan sejak Kongres meloloskan paket stimulus ekonomi senilai 787 miliar dollar AS yang diajukan oleh Obama. Menurut Obama, tanpa intervensi pemerintahnya itu, negara bagian, seperti Michigan, akan mengalami kondisi lebih buruk karena harus memecat lebih banyak tenaga guru, petugas pemadam kebakaran, dan mereka dari profesi lainnya.

Gedung Putih telah dikritik karena terlalu optimistis dengan proyeksi penyerapan tenaga kerja. Tepat 10 hari sebelum menjabat, penasihat ekonomi terkemuka Obama mengeluarkan sebuah laporan yang memprediksi tingkat pengangguran akan tetap berada pada 8 persen atau di bawah angka tersebut tahun ini apabila rancangan stimulus ekonomi diloloskan oleh Kongres.

Industri Elektronik Terkendala

Sunday, July 19th, 2009
Industri Elektronik Terkendala

JAKARTA — Industri elektronik masih menghadapi banyak kendala di negeri ini. Masalah utamanya adalah suplai dari produksi dalam negeri masih rendah karena produk jadinya hanya 34 persen, sedangkan komponennya sekitar 40 persen.

Ketua Umum Gabungan Elektronika Ali Soebroto dalam Workshop Visi 2030 dan Roadmap 2010-2015 Kadin Indonesia di Jakarta, Selasa (14/7), mengemukakan hal itu di depan rapat yang dipimpin Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Rahmat Gobel dan pengamat ekonomi Faisal Basri.

Ali mengatakan, masalah lain yang masih mengadang adalah supporting industri yang tidak mengakar. Komponen dan bahan baku utama masih mengandalkan impor. Di samping itu, penyelundupan yang mengganggu pasar dalam negeri pun masih terjadi.

Dari sisi sumber daya manusia, tenaga kerja industri elektronik masih terbatas. “Kita membutuhkan sejumlah strategi untuk keluar dari berbagai masalah ini,” ujar Ali.