Posts Tagged ‘daya’

Pertumbuhan Industri Roda Dua Bakal Linear

Sunday, July 19th, 2009
Pertumbuhan Industri Roda Dua Bakal Linear

JAKARTA — Kondisi industri kendaraan bermotor roda dua hingga tahun 2030 diasumsikan pertumbuhannya linear. Selain itu, potensi pasar mengalami kejenuhan pada rasio kepemilikan kendaraan bermotor dua orang per unit, seiring peningkatan pendapatan dan daya beli masyarakat.

Demikian diungkap Ketua Umum Asosiasi Industri Kendaraan Bermotor Seluruh Indonesia (AISI) Gunadi Sindhuwinata dalam Visi 2030 dan Roadmap 2015 Industri Nasional di Jakarta, Selasa (14/7). Gunadi menjelaskan, hingga tahun 2030, AISI melihat terjadi perbaikan infrastruktur, baik jumlah maupun mutu.

Selain itu, AISI melihat ASEAN sebagai satu pasar kesatuan yang besar setelah China. Ekspor diperkirakan terkendala peraturan pengembangan industri dalam negeri negara tujuan. Sebagai pasar terbesar di ASEAN, Indonesia merupakan home base tumbuhnya industri sepeda motor melalui industri komponen bila kondisi politik dan keamanan stabil.

Pertahanan Hadapi “Gempa Kedua”

Saturday, July 18th, 2009
Pertahanan Hadapi “Gempa Kedua”

Krisis yang bersumber dan berepisentrum di negara-negara maju membuat negara-negara berkembang yang ”tak berdosa” juga ikut babak belur. Kawasan emerging markets Asia yang semula dianggap relatif steril dari dampak krisis AS pun mendapat pukulan yang jauh lebih keras dibandingkan dengan yang mereka alami pada krisis finansial 1997/1998.

Untuk meredam dampak krisis global, secara kolektif emerging markets Asia sejauh ini sudah merencanakan untuk menggelontorkan sekitar 700 miliar dollar AS dalam bentuk stimulus fiskal. Pada saat yang sama, bank-bank sentral di kawasan ini juga berlomba-lomba menurunkan suku bunga guna mendorong pertumbuhan ekonomi yang mengalami perlambatan tajam di tengah penurunan permintaan ekspor global.

Sudahkah itu membuat Asia aman? Ternyata tidak. Seperti diingatkan Bank Dunia, stimulus hanya mampu mengurangi daya rusak dari krisis global, tetapi tak mampu mengompensasi kolapsnya permintaan global atau mengembalikan potensi pertumbuhan ekonomi yang dimiliki emerging markets.

Efektivitas stimulus juga masih sangat tergantung arah dan pelaksanaan di lapangan, serta respons dunia usaha dan masyarakat terhadap paket yang digelontorkan.

Terus memburuknya intensitas krisis ekonomi di negara maju membuat banyak negara dan lembaga dipaksa merevisi kembali target dan prediksi ekonominya.

IMF merevisi perkiraan pertumbuhan ekonomi global tahun 2009 dari 2,2 persen (versi November 2008) menjadi hanya 0,5 persen. Dengan semua macan Asia (Korea Selatan, Taiwan, Hongkong, dan Singapura) mengalami resesi, proyeksi pertumbuhan negara berkembang Asia juga dipangkas menjadi 5,5 persen. China diperkirakan hanya tumbuh 6,7 persen, dari 8,5 persen tahun 2008.
(more…)

KeMana Uang Itu Mengalir?

Saturday, July 18th, 2009
KeMana Uang Itu Mengalir?

Pemerintah telah menetapkan anggaran Rp 10,2 triliun untuk menambah alokasi anggaran proyek infrastruktur yang telah ditetapkan dalam APBN 2009 senilai Rp 102 triliun. Dana itu disiapkan sebagai salah satu langkah untuk antisipasi menghadapi memburuknya krisis ekonomi global.

Melalui dana stimulus itu diharapkan bisa membuka lapangan kerja untuk mempertahankan daya beli masyarakat. Namun, ke mana uang Rp 10,2 triliun itu mengalir? Itu belum jelas. Sebagai patokan, dalam tajuk The Economist, majalah yang sudah berusia 166 tahun, edisi 24 Januari 2009, disebutkan bahwa efektivitas stimulus sangat ditentukan dua hal. Pertama, skala atau nilai stimulusnya. Kedua, bentuk dari stimulus itu.

Kompas mendapatkan penjelasan mengenai aliran ini cukup lengkap dari Kantor Menteri Koordinator Perekonomian. Namun, efektivitas anggarannya sangat tergantung dari departemen teknis sebagai pelaksana.

Pada akhir tahun 2008, saat pemerintah mulai mengumumkan niatnya untuk menambah anggaran infrastruktur dalam mengantisipasi memburuknya krisis ekonomi, banyak departemen teknis yang dengan kehausan menyampaikan proposal kepada Kementerian Koordinator Perekonomian.
(more…)

Selamatkan Uang di Daerah dari Bagi-bagi Upeti

Saturday, July 18th, 2009
Selamatkan Uang di Daerah dari Bagi-bagi Upeti

Perilaku bagi-bagi upeti kepada pejabat pemerintah pusat sampai sekarang masih terjadi sehingga makna otonomi daerah yang menjadikan rakyat sebagai tujuan akhir penggunaan setiap rupiah yang diterima di daerah telah melenceng.

Hal itu terbukti dengan ditangkapnya Kepala Bagian Keuangan di Direktorat Jenderal Pembinaan, Pelatihan, dan Produktivitas; Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Depnakertrans) oleh petugas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Hotel Citraland, Jakarta, Kamis (29/1).

Penangkapan itu seakan menjadi bukti nyata temuan-temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) tentang kebobrokan hubungan perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah.

Kini, KPK masih mengejar pejabat daerah yang memberikan dana Rp 100 juta dalam 17 amplop itu. Namun, pada tahap awal, peristiwa ini mengindikasikan adanya hubungan antara pemberian amplop-amplop upeti tersebut terkait dengan acara yang digelar Depnakertrans, yakni rapat koordinasi yang dihadiri daerah-daerah penerima dana dekonsentrasi dan dana tugas perbantuan departemen ini.

Dana dekonsentrasi dan dana tugas pembantuan departemen adalah satu dari sekitar lima sumber keuangan yang dialirkan dari pemerintah pusat ke daerah.

Dana ini digunakan untuk membiayai program departemen dan lembaga nondepartemen di pusat, tetapi pelaksanaannya diserahkan ke pemda sehingga belum tentu semua daerah akan mendapatkan aliran dana ini. (more…)