Untar Siap Sediakan Psikolog untuk PBSI

Untar Siap Sediakan Psikolog untuk PBSI

JAKARTA – Universitas Tarumanagara (Untar) Jakarta siap menyediakan psikolog untuk mendampingi atlet jika PB PBSI membutuhkan. Hal ini dikemukakan Rektor Untar Dr Monty P Satiadarma, dalam simposium “Mengembalikan Kejayaan Bulu Tangkis Indonesia” di kampus yang dipimpinnya, Kamis (11/2/10).

“Keterlibatan Untar dalam olahraga bukan hal baru. Kami pernah terlibat di KONI, PB (pengurus besar cabang olahraga) dan dengan atlet secara pribadi. Jika PBSI membutuhkan bantuan psikolog kami siap membantu,” ujar Monty.

Menanggapi penawaran tersebut, Wakil Ketua Umum PB PBSI I Gusti Made Oka menyambutnya dengan positif. Dia mengatakan akan menindaklanjuti tawaran rektor Untar tersebut.

“Tentu kami sambut terbuka kalau Untar akan membantu PBSI, kami akan konsultasi dengan mereka. Kami akan mengidentifikasi masalah-masalah yang ada di PBSI untuk dikonsultasikan dengan pihak Untar,” ujarnya.

Monty yang juga psikolog itu mengatakan bahwa psikolog dibutuhkan dalam membantu membangun mental yang merupakan faktor penting bagi seorang atlet. Aspek mental seorang atlet, katanya, harus mempunyai sikap kompetitif.

“Guna mengembangkan dorongan berkompetisi atlet harus memiliki cukup motivasi dan diikuti disiplin yang tinggi,” ujarnya lalu menambahkan, pengembangan disiplin atlet juga sangat dipengaruhi perilaku pembinanya karena atlet cenderung mencontoh pembina.

Menurutnya, motivasi yang dipengaruhi tiga hal–kebutuhan, sasaran dan kesempatan–pada setiap atlet berbeda-beda sehingga selayaknya setiap atlet mempunyai data pribadi yang lengkap dan dimengerti pelatih dan pembina.

“Kondisi pribadi atlet, termasuk masalah pribadi masing-masing, adalah kunci kondisi psikologis yang harus dihadapi pelatih dan pembina,” kata Monty yang pernah menjadi konselor di Perpani, Pertina, KONI DKI dan KONI Pusat itu. Karenanya pelatih maupun pembina perlu mempunyai daftar masalah yang dihadapi atletnya agak dapat diberi penanganan yang tepat.

“Cara menanganinya dengan dibicarakan, kalau masalahnya fisik ditangani oleh dokter, kalau psikis oleh psikolog,” jelasnya.

Dalam mengikuti turnamen-turnamen besar seperti Piala Thomas dan Uber, Sudirman maupun Olimpiade, PBSI sering melibatkan psikolog sebagai pendamping atlet dalam mempersiapkan diri hingga saat bertanding.JAKARTA – Universitas Tarumanagara (Untar) Jakarta siap menyediakan psikolog untuk mendampingi atlet jika PB PBSI membutuhkan. Hal ini dikemukakan Rektor Untar Dr Monty P Satiadarma, dalam simposium “Mengembalikan Kejayaan Bulu Tangkis Indonesia” di kampus yang dipimpinnya, Kamis (11/2/10).

“Keterlibatan Untar dalam olahraga bukan hal baru. Kami pernah terlibat di KONI, PB (pengurus besar cabang olahraga) dan dengan atlet secara pribadi. Jika PBSI membutuhkan bantuan psikolog kami siap membantu,” ujar Monty.

Menanggapi penawaran tersebut, Wakil Ketua Umum PB PBSI I Gusti Made Oka menyambutnya dengan positif. Dia mengatakan akan menindaklanjuti tawaran rektor Untar tersebut.

“Tentu kami sambut terbuka kalau Untar akan membantu PBSI, kami akan konsultasi dengan mereka. Kami akan mengidentifikasi masalah-masalah yang ada di PBSI untuk dikonsultasikan dengan pihak Untar,” ujarnya.

Monty yang juga psikolog itu mengatakan bahwa psikolog dibutuhkan dalam membantu membangun mental yang merupakan faktor penting bagi seorang atlet. Aspek mental seorang atlet, katanya, harus mempunyai sikap kompetitif.

“Guna mengembangkan dorongan berkompetisi atlet harus memiliki cukup motivasi dan diikuti disiplin yang tinggi,” ujarnya lalu menambahkan, pengembangan disiplin atlet juga sangat dipengaruhi perilaku pembinanya karena atlet cenderung mencontoh pembina.

Menurutnya, motivasi yang dipengaruhi tiga hal–kebutuhan, sasaran dan kesempatan–pada setiap atlet berbeda-beda sehingga selayaknya setiap atlet mempunyai data pribadi yang lengkap dan dimengerti pelatih dan pembina.

“Kondisi pribadi atlet, termasuk masalah pribadi masing-masing, adalah kunci kondisi psikologis yang harus dihadapi pelatih dan pembina,” kata Monty yang pernah menjadi konselor di Perpani, Pertina, KONI DKI dan KONI Pusat itu. Karenanya pelatih maupun pembina perlu mempunyai daftar masalah yang dihadapi atletnya agak dapat diberi penanganan yang tepat.

“Cara menanganinya dengan dibicarakan, kalau masalahnya fisik ditangani oleh dokter, kalau psikis oleh psikolog,” jelasnya.

Dalam mengikuti turnamen-turnamen besar seperti Piala Thomas dan Uber, Sudirman maupun Olimpiade, PBSI sering melibatkan psikolog sebagai pendamping atlet dalam mempersiapkan diri hingga saat bertanding.

Tags: , , , , , , ,

Leave a Reply