Pedagang Memang Lebih Suka Jual Produk China

Pedagang Memang Lebih Suka Jual Produk China

TERNATE – Para pedagang di Ternate, Maluku Utara, terutama pedagang pakaian, elektronik, dan kosmetik, lebih senang menjual produk impor, terutama dari China. Sebab, harganya lebih murah jika dibandingkan dengan produk dalam negeri.

“Pembeli di Ternate tidak mempersoalkan daerah atau negara yang memproduksi barang yang akan dibelinya. Yang penting barang itu bagus dan harganya murah,” kata seorang pedagang pakaian di Pasar Bastiong Ternate, Salim, Sabtu (9/1/2010).

Perbedaan harga antara produk China dan produk dalam negeri bisa mencapai 30 persen. Perbedaan itu diperkirakan akan makin besar menyusul berlakunya pasar bebas ASEAN dan China (FTA ASEAN-China) di mana semua produk yang masuk Indonesia tidak lagi dikenakan bea masuk.

Ia mengatakan, dirinya sebenarnya ingin menjual produk dalam negeri sebagai wujud rasa cinta terhadap produk bangsa sendiri, tetapi kendalanya pembeli di Ternate lebih mengutamakan harga murah. Harga murah itu hanya didapat dari produk dari China.

Para pedagang di Ternate mendapatkan barang produk China melalui agen atau grosir dari sejumlah daerah di Jawa. Untuk pakaian dan kosmetik, misalnya, pedagang Ternate mendapatkannya melalui Pasar Grosir Tanah Abang Jakarta.

Pedagang lainnya di Ternate, Liliana, mengaku lebih memilih menjual produk dari China karena keuntungannya lebih besar. Modal Rp 100 juta kalau dibelikan barang produk China untungnya bisa Rp 50 juta, sedangkan kalau dibelikan produk dalam negeri paling banyak Rp 20 juta.

Kebanyakan pungutan

Para pedagang mengaku sudah banyak dihubungi oleh agen dan grosir barang di Jakarta dan Surabaya. Mereka ditawari sejumlah barang impor, terutama dari China, dengan harga yang lebih murah dari produk yang sama buatan dalam negeri.

Seorang pengunjung di Pasar Bastiong Ternate, Hanifa, mengatakan, dirinya lebih senang membeli produk dari China karena harganya lebih murah. Gaun yang kainnya dari China, misalnya, di Ternate harganya sekitar Rp 100.000, sedangkan gaun yang kainnya produk dalam negeri harganya sekitar Rp 150.000 per potong.

Informasi yang diperoleh para pedagang, produk China bisa lebih murah karena biaya produksi produksi dalam negeri termasuk mahal. Selain itu, di Indonesia juga terlalu banyak pungutan tak resmi, baik dalam proses produksi, pembangunan pabrik, pengamanan, maupun dalam proses distribusi.

Seperti diberitakan, pasar bebas ASEAN-China yang mulai berlaku Januari 2010 tidak menimbulkan dampak berarti bagi aktivitas perusahaan di Malut karena umumnya bergerak di bidang pertambangan dan perikanan.

Tags: , , , , , , , ,

Leave a Reply