Berperang Tanpa Amunisi yang Memadai

Berperang Tanpa Amunisi yang Memadai

Niat pemerintah jelas, menggelar ”perang” menekan angka pengangguran terbuka yang sudah 8,96 juta orang per Agustus 2009. Angka yang mencengangkan karena mencapai 8,14 persen dari total angkatan 113,83 juta orang. Padahal, rata-rata pertambahan angkatan kerja 2,32 juta orang (Agustus 2008 ke Agustus 2009). Sebuah bom waktu dengan kekuatan dahsyat yang harus segera bisa dijinakkan.

Agar ”perang” ini sukses, tidak bisa lain harus ada pertumbuhan ekonomi yang berkualitas. Ini senjata pamungkas. Pertumbuhan ekonomi yang didorong investasi dan ekspor. Pertumbuhan ekonomi dari sektor jasa dan konsumsi tidak banyak kualitas diukur dari daya serap tenaga kerja.

Mengirim tenaga kerja ke luar negeri, sebagaimana enam juta tenaga kerja Indonesia (TKI) yang ada saat ini, juga jalan keluar lain. Sejauh ini TKI menyumbang devisa dalam bentuk remitensi mencapai Rp 82 triliun (tahun 2008). TKI memang menjadi salah satu pr ogram andalan pemerintah sekarang.

Sayangnya, nasib TKI tetap memprihatinkan. Ada 1.018 TKI dianiaya di luar negeri. Juga kini marak mafia sertifikat asli tetapi palsu agar TKI dikirim tanpa mengikuti latihan kerja minimal 200 jam. TKI pun rawan dianiaya karena tidak terampil.

Bicara soal senjata pamungkas tadi, pemerintah mencanangkan pertumbuhan ekonomi selama lima tahun nanti rata-rata 7 persen. Tahun 2010, pemerintah memperkirakan pertumbuhan 5,5 persen. Pertumbuhan ekonomi yang diharapkan bisa menampung tambahan angkatan kerja sekaligus menekan angka pengangguran. Pertumbuhan 1 persen bisa menyediakan 350.000 lapangan kerja.

Pertanyaannya, apakah pemerintah cukup punya amunisi yang memadai agar pertumbuhan ini bisa tercapai? Kalangan ekonom mengatakan, untuk pertumbuhan ekonomi sekitar 4,2 persen saja pemerintah bisa mencapainya sambil tidur. Pertumbuhan muncul karena 70 persen peran sektor konsumsi.

Tags: , , , , , ,

Leave a Reply