PEMBERIAN uang saku yang tepat dan bijak dapat melatih kemandirian anak. Untuk itu, bijaklah memberi uang jajan untuk si kecil. Berilah uang saku sesuai kebutuhan dan jangan berlebihan.
Libur ajaran baru telah usai, anak-anak kembali masuk sekolah. Mungkin banyak juga di antara Anda para orangtua yang si buah hatinya baru mulai masuk SD? Nah, inilah saatnya melatih anak belajar mandiri, salah satunya melalui pemberian uang saku.
Ketika masih duduk di bangku TK atau playgroup, si kecil biasanya masih minta ditunggui, jadi ibu tidak khawatir akan kondisi buah hatinya di sekolah. Namun, saat memasuki SD tentunya ibu tidak mungkin menungguinya terus-menerus kan? Saat itulah ibu bisa mempertimbangkan perlunya pemberian uang saku agar anak terpenuhi kebutuhannya selama proses belajar-mengajar di sekolah yang rata-rata berlangsung selama 6-7 jam.
Anak yang baru mulai masuk di kelas 1 SD biasanya masih terbawa kebiasaan sewaktu di TK. Misalnya dalam hal bekal makanan dan minuman masih dibawakan ibunya dari rumah sehingga ibu belum merasa perlu memberinya uang saku.
“Kalau di sekolah anak saya kebetulan sama sekali tidak ada kantin atau pedagang makanan. Konsumsi anak-anak sudah tersedia dari katering sekolah. Jadi, orangtua tidak perlu repot menyiapkan bekal atau memberi uang saku,” ungkap Priscilla, seorang ibu asal Bogor yang memiliki putra yang baru masuk kelas 1 SD bulan ini.
Saat ini, sejumlah sekolah di perkotaan memang sudah lebih perhatian soal makanan atau jajanan yang dikonsumsi anak didiknya. Beberapa hanya membolehkan anak jajan di kantin sekolah, atau menyediakan secara khusus melalui layanan katering. Tujuannya agar apa yang dikonsumsi anak lebih terjaga keamanan dan kualitas gizinya.
Masalahnya, sekolah yang memiliki fasilitas demikian masih bisa dihitung jari. Kebanyakan merupakan sekolah bonafid atau yang berbiaya mahal. Sementara umumnya sekolah, tetap saja membiarkan anak-anak jajan di luar. Konsekuensinya, meminta uang saku seolah menjadi ritual “wajib” setiap kali anak akan berangkat sekolah.
Setiap orangtua pasti punya pertimbangan masing-masing soal aturan pemberian uang saku. Psikolog Anna Surti Ariani Psi mengemukakan, sebenarnya tidak ada konsep baku tentang waktu dan aturan pemberian uang saku. Namun, sebelum diberi kepercayaan untuk memegang uang sendiri, ada baiknya anak mengerti dulu tentang nilai uang.
“Soal umur sebenarnya tidak ada patokan, mulai SD kelas satu atau dua juga bisa mulai diberikan uang saku, asalkan dia sudah bisa berhitung dan mengerti nilai uang,” kata psikolog yang akrab disapa Nina.
Pengenalan nilai uang itu sendiri bisa dilakukan sejak usia prasekolah (2-3 tahun), dengan cara yang sederhana, fun, dan mudah dipahami anak. Misalnya melalui kertas yang dipotong-potong dan diberi tulisan nominal uang yang berbeda-beda. Dengan menggunakan “uang kertas” itu, ajak anak bermain pasar-pasaran.
“Dengan begitu, anak mengerti bahwa setiap barang itu dibeli dengan nilai yang berbeda-beda. Jadi lebih pada konsep barter, menukar uang dengan barang,” tutur ibunda dari Stella Arianata Gati.
Selanjutnya, anak perlahanlahan bisa mulai dikenalkan dengan uang yang sesungguhnya. Pun masih dengan cara yang sederhana dulu, seperti memintanya membeli sesuatu yang ringan-ringan saja di warung terdekat dengan rumah. “Bekali dengan uang secukupnya, kemudian nanti tanyakan harganya berapa dan uang kembaliannya berapa?” tukasnya.
Untuk permulaan, anak bisa diberikan uang saku dengan sistem harian. Dengan uang sakunya, anak bisa belajar mengelola keuangan. Ini juga berkaitan dengan kecerdasan finansial, di mana dia harus bisa memperkirakan: dengan uang segini aku mau beli apa saja ya? Kalau aku ingin beli ini cukup enggak ya?
“Jadi anak juga bisa belajar menahan diri kalau memang uangnya tidak cukup,” kata Nina seraya menambahkan bahwa kontrol orangtua juga penting, terutama dalam hal memberi contoh untuk berhemat.
Mengenai nominal uang saku yang diberikan, hendaknya orangtua cermat dalam menilai kebutuhan anaknya saat di sekolah. Jangan sampai berlebihan karena bisa membuat anak boros dan jajan sesukanya, juga jangan terlalu sedikit karena bisa jadi ada keperluan mendadak. Apalagi bagi anak yang tidak diantar-jemput orangtuanya atau bus sekolah. Selain itu saat ada kegiatan tambahan di sekolah, biasanya mereka perlu tambahan uang saku.
Ajak Anak Berdiskusi
Keterbukaan dalam keluarga menjadi kunci agar bisa lebih memahami dinamika diskusi dan perilaku keuangan antara orangtua dan anaknya. Banyak orangtua yang enggan membicarakan kondisi keuangan keluarga dengan anak-anaknya, hal ini biasanya terkait dengan rasa tidak nyaman secara finansial.
“Hampir dipastikan bahwa kekurangmampuan memanajemen keuanganlah yang membuat orangtua enggan mendiskusikan lebih jauh tentang isu-isu keuangan dengan anaknya,” kata Dr Mark Schug, Profesor dan Direktur University of Wisconsin-Milwaukee Center for Economic Education, seperti dikutip dalam www. homeparents.about.com.
Diskusi soal kondisi keuangan dan bagaimana mengelola keuangan yang baik mungkin perlu diterapkan sejak kecil sehingga anak-anak bisa menjadi healthy financial decision-makers di kemudian hari. Namun, banyak orangtua beralasan bahwa mereka tidak sempat memikirkannya atau menganggap anaknya masih terlalu muda dan “tidak ada urusannya untuk mengetahui hal tersebut”. Selain itu orangtua mungkin menganggap bahwa memberi tahu penghasilan keluarga. Apalagi kalau ada penghasilan-penghasilan tambahan, sama artinya dengan membuka peluang anak-anak merajuk untuk minta uang saku lebih banyak.
“Pendekatan yang lebih bijaksana adalah dengan membantu anak mengembangkan kemampuan mengelola keuangan mereka sendiri sehingga mereka mengerti bahwa setiap keping uang itu bernilai,” tandasnya.
Tags: agar, antara, asal, bekal, bisa, bogor, hanya, kalau, kantin sekolah, katering, keamanan, makanan dan minuman, perhatian, putra, rumah, saja, selama, terus, uang saku
